HidupKu larut di Martabak & Mie AyamWritten by I.B. Oka Winaya Wednesday, 24 September 2008 23:54 Ruang berusaha akan selalu terbuka ketika ada hasrat untuk menjalankannya. Namun sayang, keinginan berusaha ini, kerap masih dikalahkan oleh perasaan malu, gengsi serta kebiasaan terlalu memilih- milih pekerjaan.Meski sudah terhimpit dengan keadaan perekonomian yang morat-marit, tak jarang mereka masih bertahan dengan kebiasaan ini.Sektor informal, terkadang urung dilirik karena masih terbelenggu dengan sikap yang keliru ini. Bila diperhatikan secara seksama tidak banyak pedagang sate, pedagang bakso, bahkan pedagang martabak terang bulan serta mie ayam, selain pekerjaan sektor informal lainnya yang digeluti krama bali. Padahal sejatinya, sector ini sangat potensial dan menjanjikan untuk dijadikan mata pencaharian. Sehingga bukan rahasia lagi, bila sector-sektor ini lebih banyak digeluti pendatang dari luar bali, yang setiap tahunnya semakin memadati pulau dewata ini. Ironis memang, kesempatan berusaha cukup banyak, malah dinikmati kaum pendatang, bukannya oleh krama bali sendiri. Setidaknya untuk saat ini kita boleh berbangga. Beberapa krama bali mulai menanggalkan rasa malu, dan dengan semangat menekuni usaha informal, seperti menjadi pedagang Martabak, terang bulan dan mie ayam. Adalah Pasangan suami istri, I Nyoman Suela dan Ni Luh Garsi, krama dari Desa Tianyar, Kecamatan Kubu Karangasem, yang kini menggeluti pekerjaan sebagai pedagang Martabak dan Mie ayam. Proses pembuatan mie ayam dan martabak dimulai pada pagi hari. Untuk produksi sehari nyoman suela dengan dibantu sang istri dan sanak famili yang diajaknya dari kampung mengaku menghabiskan kurang lebih lima setengah kilo tepung terigu, daging ayam serta telor ayam. Nyoman Suela mengaku dirinya sengaja memakai perbandingan satu banding empat untuk menjaga kualitas dan rasa kekenyalan mie ayam buatannya. Menyimak cerita yang dituturkan oleh Nyoman Suela yang bermula dari seorang pekerja di sebuah rumah makan milik seorang warga keturunan Cina hingga dirinya akhirnya menikahi gadis sekampungnya yang juga sama-sama pekerja di rumah makan milik majikannya itu. hati siapapun akan iba dan trenyuh…, betapa tidak keinginan dan hasrat untuk mengubah nasib begitu kuat sampai-sampai tidak terbayang apakah dengan bekerja pada orang lain nantinya akan bisa menghidupi istri dan kelak nantinya punya anak?. Banyak pertimbangan yang saat itu harus ia perhatikan mengingat masih jarang orang lokal yang mau menekuni bidang usaha ini. namun dengan berbagai pertimbangan dan keberanian walau hanya dengan modal pasa-pasan, nyoman suela memilih berhenti bekerja selanjutnya membuka usaha sejenis walau masih sangat sederhana. Menjelang siang, semua sudah selesai dikerjakan. Mie Ayam yang lebih terkenal dengan nama mie ayam Jakarta, juga martabak dan terangbulan, serta bakso ayam, mulai disiapkan. Saat ini nyoman suela sudah bisa berbangga karena dengan hasil jerih payahnya dibantu istri dan sanak famili, dirinya bisa memiliki rumah yang sekaligus dipakainya untuk mencari nafkah yakni sebagi tempat berjualan, itupun walau dengan cara mencicil di bank. Kini dari rumah warungnya inilah dirinya memulai dan merupakan modal mereka memperjuangkan hidup, yang akan mengantarkan mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik ketimbang saudara-saudara mereka di kampung yang masih dihimpit oleh kemiskinan dan kemelaratan.. Nyoamn suela dan istrinya luh garsi, berharap banyak dari pekerjaan yang digelutinya ini. Ia memiliki tanggungan keluarga, dan juga adik yang sampai kini harus ia bantu untuk nantinya bisa mandiri. Suami istri ini, tinggal di seputaran jalan gunung agung berikut para sanak famili yang membantunya berjualan di sebuah rumah dan hidup dalam kesederhanaan. Namun toh, rasa syukur tetap mengalir, meski kondisi sulit yang ditanggung kian menghimpit. Celah berusaha yang tersisa bagi mereka, merupakan berkah untuk memperjuangkan hidup, demi sesuatu yang lebih baik. Meski mengaku tidak mempunyai resep khusus namun Martabak dan mie ayam buatannya lumayan digemari warga. Tidak sedikit mereka yang hobi makan mie ayam dan martabak menunggu-bahkan mengantri, untuk sekedar mencicipi masakan buatannya nyoman suela beserta istri. Ada yang memuji, dan ada pula yang memberikan saran mengenai rasa mie ataupun masakan lainnya yang sepintas sudah bisa disetarakan dengan masakan standar restoran. Bagi mereka, semua itu menjadi pemicu semangat dirinya untuk menghasilkan rasa yang semakin digemari lidah pelanggannya. Ada kegembiaraan, ketika mie ayam ataupun masakannya yang lain lahap dikomsumsi para pembeli. Artinya, rasa yang ditawarkan sudah mengena dihati pembeli. Namun mereka tetap berusaha untuk menjaga agar masakan mie yang dijual tetap sukla, higienes dan tentunya tanpa bahah pengawet. Ditengah kekawatiran banyaknya makanan yang memakai bahan pengawet seperti Formalin, boraq dan lain-lain, nyoman suela menjami akan masakan buatannya yang betul-betul bersih dan sehat untuk dikonsumsi. Baginya, berdagang adalah bentuk pelayanan, dan sudah tentu makanan yang ditawarkan diharapkan tidak hanya menghapus rasa lapar pembeli, namun juga jaminan akan kesehatan makanan yang dikonsumsi. Seporsi mie ayam dijual dengan harga terjangkau untuk kantong kita. Penghasilan bersih yang diperolehnya sehari, dirasa cukup untuk menghidupi keluarga sekaligus menggaji para sanak familinya. Selebihnya kalau sa barulah ditabung untuk nantinya menambah modal usaha. kegigihan, serta keuletan untuk menekuni usaha berjualan Martabak dan mie ayam Jakarta akhirnya mulai menunjukkan hasil. Nyoman suela akhirnya memberanikan diri membuka warung sjenis di bilangan jalan raya ubud di tengah hiruk pikuknya arus lalu lalang para wisatawan. Dengan permodalan secukupnya walau tanpa berbekal bahasa inggris ataupun yang lainnya, dirinya nekat membuka usaha sejenis di ubud. Keinginan berusaha yang begitu besar dalam benak mereka, menjadi pendorong untuk giat menjalankan pekerjaan ini. Pahit getir kehidupan pulalah yang telah menempa mereka untuk tegar dan tabah dalam berusaha. Mereka akan terus melangkah, dengan kekuatan yang dimiliki. Memang tidak banyak penghasilan yang didapat dari berjualan berbagai penganan mie ataupunmartabak. Namun Penghasilan yang diperoleh dirasa cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Namun, hal tersebut tidak pernah membuat suami istri ini patah semangat, justru semakin terpacu melebarkan usahanya. Keadaan telah mengkondisikan mereka untuk menanggalkan rasa malu dan gengsi, yang sejatinya merupakan penghalang dalam berusaha. Berbekal keuletan serta kegigihan, Nyoman Suela dan luh Garsi, telah membuka jalan bagi diri sejkaligus sanak familinya, untuk memperjuangkan hidup hingga mampu bertahan di tengah kerasnya tekanan kehidupan kota besar sekelas Denpasar ini.
|
























