Tumpeng bikin HidupKu LempengWritten by I.B. Oka Winaya Wednesday, 24 September 2008 23:51 Seperti daerah lainnya di Indonesia, Bali memiliki berbagai keunikan baik dalam ragam budaya tradisional dan karya seninya, juga dalam ragam makanan khasnya. Selain itu yang berhubungan erat dengan sarana upacara yadnya tak terkecuali sarana bebantenan yang dipadukan dengan atribut makanan ataupun simbul-simbul tradisional yang sering disebut sebagai sarana bebantenan diantyaranya tumpeng, penek ataupun pangkon. Berbagai bentuk dan nama yang termasuk dalam sarana bebantenan dibuat sedemikian rupa oleh ibu-ibu atau para kaum wanita di bali. Hal ini boleh dikatakan sebagai sebagian dari penganan tradisional bali, yang menghiasi aturan, atau persembahan sebagai wujud bakti umat hindu.Seiring pesatnya perkembangan jaman dimana sebagian besar orang bali yang disibukkan dengan rutinitas sehari-hari sampai tidak ada waktu untuk membuat sendiri sarana upakara ini. Untuk itulah beberapa warga yang kreatif mencoba membuat berbagai sarana upakara yang dibutuhkan warga selain sebagai penambah penghasilan juga untuk menambah uang dapur. Munculah sebuah nama yakni I Wayan Balik, seorang pria yang terlahir dari percampuran darah Bali dan flores yang begitu getol menekuni usaha pembuatan tumpeng, penek ataupun pangkon ini. Keheranan kita akhirnya muncul, karena selain sosoknya seorang lelaki yang identik dengan pekerjaan kasar atau keras, juga dalam dirinya mengalir darah flores yang mau tidak mau kita dibuat salut kepada sosok lelaki satu ini. Lahir dan tinggal di banjar antugan desa Blahbatuh Gianyar, segala liku-liku beratnya perjuangan hidup dilakoni oleh pria tiga orang putra ini. Usaha pembuatan Tumpeng, penek dan pangkon yang dilakoni Wayan Balik ini masih berskala kecil, digarap secara sederhana, manual dan nyaris tak tersentuh kecanggihan teknologi.Hanya sebuah oven tua milik satu-satunya yang senantiasa menemani untuk mampu menghasilkan ratusan bahkan ribuan tumpeng dan yang lainnya untuk memenuhi pesanan umat hindu khususnya di Gianyar. Tenaga kerja yang dilibatkan dalam usaha inipun tak sebanyak bidang usaha lainnya dan itu diambil dari sanak famili atau para tetangga. Bahan yang digunakan, tidak mengandung unsur kimia atau zat pengawet. terbuat dari beras dan tepung kanji, dan melalui proses pengukusan. Tentunya hal itu dilakukan untuk mempermudah pembentukan berbagai bentuk sarana seperti tumpeng penek ataupun pangkon, ini didasarkan pada nama dan makna sarana upakara tersebut. Memang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sosok Wayan Balik, yang merupakan anak ke empat dari lima bersaudara ini begitu murah senyum dan polos seolah tak sepatah katapun keluar dari mulutnya karena dirinya lebih mengutamakan kecepatan tangannya untuk bisa secepatnya menyelesaikan pesanan sarana upakara dalam bentuk berbagai tumpeng, penek ataupun pangkon. Itu semua memang didasarkan pada target dimana sang pemesan akan mengambil pesanannya didasarkan pada hari-H suatu pelaksanaan upacara yadnya yang semakin dekat. Target harus selesai tiba pada waktunya demikian moto yang selalu terngiang di telinga pria yang sudah menginjak usia kepala tiga ini. Sedikit demi sedikit, Wayan Balik meningkatkan jumlah pesanan yang diterimanya. Dari hasil produksi awalnya hanya diseputaran desa tempat tinggalnya kini merambah hingga keluar gianyar bahkan hingga ke kabupaten buleleng. Tak anggung-tanggung Wayan Balik bersama sanak famili dan tetangga bekerja hingga larut hanya untuk mengejar target agar sesuai tepat waktu. Secara umum berbagai tumpeng, penek dan pangkon buatannya, biasanya untuk memenuhi kebutuhan sarana upakara yadnya. Untuk itu, produksi dilakukan hampir setiap saat karena diyakini khususnya untuk di Bali hampir setiap hari orang melakukan upacara yadnya walau dari tingkatan paling sederhana hingga tingkatan yadnya yang paling lengkap atau utama. menjelang rerainan seperti purnama, tilem, kajeng kliwon serta rerainan besar lainnya seperti piodalan agung atau sekelas ngenteg linggih ataupun meplegembal. Menjelang rerainan jagat atau hari-hari besar seperti galungan, merupakan masa panen bagi usaha pembuatan tumpeng, penek ataupun pangkon ini. Produksi akan meningkat drastis sesuai pesanan. Hal ini tentu menambah jumlah tenaga yang dilibatkan. Jika di hari-hari biasa pembuatan tumpeng dan yang lainnya bisa ditangani empat sampai lima orang, maka pada saat pesanan melimpah, bisa melibatkan sepuluh hingga lima belas orang. Terkadang, Wayan Balik Marsi tidak mampu memenuhi pesanan. Keterbatasan modal dan tenaga membuatnya harus puas menikmati penghasilan sesuai dengan kapasitas yang ada. Dengan rutinitas pelaksanaan yadnya di bali, pembuatan tumpeng dan sarana lainnya ini sebenarnya merupakan sumber penghasilan yang menjanjikan. Namun demikian, masih sedikit yang melirik peluang usaha ini. Usaha ini berpeluang besar untuk dikembangkan, jika digarap dengan manajemen yang baik dan kesungguhan hati. Sayangnya, kemampuan itulah yang belum diperhatikan. Mereka cukup puas ketika usahanya sudah mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Apalagi oleh sosok seorang lelaki seperti wayan balik ini yang begitu terobsesi untuk bisa mempersembahkan sesuatu yang terbaik untuk keluarga. Usaha kecil–kecilan ini, mampu memberi penghasilan yang cukup demi keberlangsungan ekonomi keluarganya. Tak terkecuali walau telah dikaruniai tiga orang anak, Wayan tetap berkiprah dengan usaha kecilnya ini. Dahulu kala saat masih remaja dirinya sudah mempunyai obsesi dan cita-cita untuk bisa mandiri tanpa harus ketergantungan dengan orangtuanya. Sempat berhasrat ingin melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi namun apa daya karena keterbatasan biaya dari orangtua hingga membuat Seorang Wayan balik harus puas mengenyam pendidikan hanya sampai tingkat SLTA. Tungku ovennya selalu disibukkan dengan aktifitas pembuatan tumpeng, penek dan pangkon yang telah dibentuk. Proses pemanggangan dengan oven merupakan salah satu alternatif mengakali terbatasnya sinar matahari yang dibutuhkan. Pengemasan berbagai bentuk tumpeng ataupun yang lainnya adalah bagian terakhir dari tahapan-tahapan pembuatan sarana bebantenan ini. Didapurnya yang sederhana asap dari kompor gas dan ovennya yang membuat gerah tubuh mereka, wayan balik dan istri luh nyoman suarmi senantiasa ulet bekerja, memperjuangkan kelangsungan hidup keluarganya yang sangat sederhana. Ketika usia telah merangkak secara perlahan namun semangat tuk berusaha mempertahankan hidup dengan bekerja semakin tampak di depan mata. kala itulah tembang kehidupan selalu menggema seolah membisikkan sebait syair yang sarat akan makna hidup. Seolah-olah kita diajak memahami dan memaknai hidup ini dengan sebuah lakon yang kita bawakan. Kita tidak bisa hidup hanya mengandalkan belas kasih atau pemberian dari orang lain semata. Kitapun tidak tahu apakah hari ini atau esok akan memperoleh hasil atau keberuntungan dari usaha yang kita geluti, atau… bahkan merugi. Namun satu hal yang perlu tetap diyakini bahwasannya panji-panji usaha keras yang pantang menyerah harus senantiasa dikibarkan. Usaha pembuatan Tumpeng, penek dan pangkon yang dijalankan Wayan Balik memang masih berskala kecil. Namun demikian, usaha ini mampu dijadikan pekerjaan, menopang kebutuhan keluarganya. Kejelian memanfaatkan celah berusaha, dilatarbelakangi semangat untuk kukuh dan ulet bekerja, akan memberikan buah rejeki yang teramat manis.
|
























