A+ R A-

PURA PENGANGON MAYUNGAN

E-mail Print PDF

Sejarah pura Pengangon ini, erat kaitannya dengan masa pemerintahan raja bali kuna. Diceritakan raja Bali yang bergelar Asta Sura Ratna Banten bersama patih beliau Kebo Iwa, berkunjungan ke desa Mayungan. Raja sangat kasihan melihat keadaan masyarakat disana, atas kemelaratan yang menimpanya. Banyak penduduk yang mati kelaparan akibat gagal panen hamper  tiga tahun berturut-turut. Atas dasar itu beliau Maharaja Asta Sura Ratna Bumi Banten, memerintahkan masyarakat mayungan untuk membangun stana atau parahyangan dewa kesuburan. Setelah pura itu selesai dibangun pada tahun saka 1261 atau 1339 masehi, serta diberi nama Pengangon, yang merupakan stana atau tempat memuja Shanghyang Klaba Angkit atau sanghyang rare angon. Shanghyang Rare Angon adalah lambing kesuburan dan keselamatan tanaman serta hewan ternak termasuk juga manusia.

Seperti umumnya pura-pura lain di Bali, Pura Pengangon ini, dibagi menjadi tiga mandala, yaitu Kanistan Mandala atau Jaba Sisi, Madya Mandala atau Jaba Tengah, dan Utama Mandala atau Jeroan. Dengan luas sekitar 50 are, pura pengangon ini dihiasi beberapa buah bangunan suci, pelinggih, pelinggih pokok pura dan areal parker pura.

Pada Jaba Sisi, pandangan kita akan langsung melihat pelinggih pasar agung atau wantilan dan pamendak agung, yang difungsikan saat pijawali dengan sarana upakara pemendak sesuai dengan tradisi yang berlaku. Menuju madya mandala, pemandangan kita akan melihat candi bentar yang disebelah kanan-kirinya terdapat apit lawang. Menuju madya mandala, di arah timurnya terdapat bale gong, yang difungsikan untuk tempat gambelan di bunyikan bila mana ada pujawali atau petirtan. Di arah barat menuju timur terdapat pelinggih bucu lima, pelinggih bebaturan yang merupakan tempat penyawangan puncak manggu ,pelinggih sedan penyarikan, dan panggungan sebagai tempat untuk mempersembahkan bakti sor atu bebangkit pada saat di gelarnya upacara. Masih di madya mandala menuju ke utama ke utama mandala sebelum memasuki candi bentar terdapat apit surang yang diarah timurnya terdapat patung celeng atau babi, dan disebelah baratnya patung berwujud sapi. Di utama mandala terdapat beberapa pelinggih, dari arah timur ke barat terdapat padmasana bucu telu atau bersudut tiga, pelinngih gedong sari, dan pelinggih pejenengan.

Ditengah-tengah utama mandala terdapat bale paruman dan bale pewedan sunia.Tahap renovasi atau pemugaran Pura pengangon ini,sudah melewati tiga tahapan pemugran, Di mulai dari tahun  1978 dan yang terakhir tahun 2010. Pada tahun 2010 pemugran total mulqi dari padmasana bucu tiga, pelinggih gedong uger, pelinggih gedong sari, pelinggih pejenengan, bale pawedan sunia, bale pangaruman, hingga di jaba tengah mulai dari pelinggih penyawangan puncak manggu, gedong penyarikan,dan panggungan rauh.
Dalam renovasi atau pemugran ini, masyarakat beserta bendesa adat, sepakat untuk tetap memelihara titik- titik kesucian pura dan melakukan rehab tanpa harus menghilangkan peninggalan-peninggalan yang ada. Pengempon Pura penganggon berjulah 350 paon atau sekitar 700 KK,terdiri dari dusun  mayungan led, mayungan anyar,dan karma adat sebagai penyawi. Para Pengempon ini bertanggung jawab penuh atas keberadaan pura, baik kebersihan maupun kelestariannya. Pujawali atau tata upacara keagamaan yang dilaksanakan dipura pengenpon ini dapat dikolompokan menjadi dua jenis, yaitu upacara yang bersifat rutin dan upacara yang bersifat incidental. Upacara keagamaan yang bersifat rutin yaitu pujawali atau piodalan. Berdasarkan perhitungan wewageran dan wuku, Pujawati di Pura pengangon ini, jatuh setiap saniscara kliwon wuku uye atau di tumpek kandang atau tumpek uye.

Pura pengangon ini memiliki beberapa keunikan, diantaranya adanya pelinggih padmasana bucu telu atau bersudut tiga yang merupakan simbol dari Sang Hyang Ongkara Merta, simbol dari aksara AUM atau tri murti, dan pelinggih bucu lima atau bersudut lima yang merupakan symbol swastika cakra padma atau simbol tampak dara. Disamping itu di jaba sisi ada wantilan atau palinggih pasar    agung    yang difungsikan sebagai mendak ida betara yang tedun ring pesucian, dan digunakan sebagai tempat mapurwa di wantilan ini. Pura pengangon ini, merupakan pura penyungsungan umum sebagai tempat memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam segala prabawanya atau manisfestasinya dengan eksistensi dan kharismanya sebagai tempat memohon kesejahteraan umat. Pura ini juga difungsikan khusus oleh masyarakat untuk memuja prabawa sebagai pencipta, pemelihara dan praline atau melebur sebagai cirri khas padma bucu telu. Selain itu pura pengangon ini, juga berfingsi sebagai pura swagina yaitu pura yang difungsikan sebagai profesi masyarakat, dimana pura ini untuk memohon keselamatan dan kerahayuan binatang – binatang ternak dan tanaman palawija. Besar harapan dari pengempon pura pengangon ini, untuk menjaga warisan budaya yang memiliki nilai sangat penting, supaya dapat dipelihara dan dilestarikan dengan baik.

kananbawah256profil

Video Profil Bali TV

 

Video Company Profile 10 Tahun Bali TV. Klik gambar diatas untuk menyaksikan videonya.

SOCIAL MEDIA

Info Lalu Lintas

ditlantasbali: 10.45wita Berhentilah saat anda menerima telepon atau sms agar terhindar dari hal2 yang tak diinginkan, patuhi rambu lalin dan jaga jrk aman
ditlantasbali: @tiwiwinch unt di sibang gede sim keliling hari selasa ibu..
ditlantasbali: @tiwiwinch unt sim keliling wilayah badung di canggu.. denpasar carefoor.

WIRASA

AGROBIS

SAMATRA ARTIS BALI

TAKSU

baliph