|
|
|
|

|
Home Celah Kehidupan Menggurat Nasib,Merajut Asa di Kau Bulu
|
|
Menggurat Nasib,Merajut Asa di Kau Bulu |
|
|
|
|
Ditulis oleh I.B. Oka Winaya
|
|
Thursday, 25 September 2008 |
Usia boleh terus bergulir, tetapi bukanlah menjadi penghalang untuk tetap berusaha. Sebagai manusia, kita dituntut untuk melakukan karya, sebab jika tidak, kita akan tergilas oleh tuntutan hidup. Itu pula yang mengilhami I Ketut Sukayasa yang kerap dipanggil Bli Ketut untuk tetap bekerja dan bekerja. Di usianya yang menginjak kepala empat, Bli Ketut tetap kukuh menjalani hidup sebagai pembuat kerajinan batok kelapa yang dipadukan dengan kayu ataupun benda seni lainnya. Pagi itu, dingin menyelimuti lingkungan Banjar Tangga Yuda Desa Kedewatan . sebuah desa berhawa sejuk yang berlokasi di kecamatan Ubud Gianyar. Kali ini suatu kisah anak manusia yang terlahir di kampung memulai aktifitasnya sebagai perajin batok kelapa dan berbagai kerajinan lainnya. Dari desa ini, kita akan bercermin, bagaimana sosok seorang pemuda desa bertahan hidup, dan tidak mudah menyerah dengan keadaan. Membuat kerajinan dari batok kelapa atau yang sering disebut kau bulu , merupakan rutinitas yang dijalani Ketut Sukayasa dalam menjalani aktifitas untuk menambah penghasilan keluarga dengan dibantu oleh istri serta anggota keluarganya yang lain. Ketika diajak berdialog, jawaban yang mengalir dari mulutnya memang sangatlah lugu dan cenderung penuh guyonan. Maklum saja, karena ia berkomunikasi dengan bahasa yang dikuasai, saat mengecap pendidikan sampai tamat SMA. Layaknya seorang warga kampung, kehidupan yang sangat sederhana mendorong dirinya untuk mengisi hari-harinya dengan kesibukan membuat berbagai kerajinan. Awalnya memang tidak disangka-sangka bila dirinya akan beralih profesi sebagai perajin karena pengakuannya sempat dirinya lama merantau ke daerah orang yakni menjual berbagaibentuk kerajinan di daerah Alas kedaton. Jangan pernah sangsikan kemampuannya walau sedikitpun tak punya bekal ketrampilan mengolah berbagai bahan baku berupa batok kelapa tersebut menjadi beberapa bentuk kerajinan yang disesuaikan dengan bentuk dan ukuran sesuai dengan pesanan. Bagi Ketut Sukayasa nasib telah mengajarkan dan mendidiknya bagaimana untuk bertahan hidup. Dan batok kelapa yang diperolehnya dari pohon kelapa yang dikirim dari luar daerah menjadi tempat bagi sosok seorang ketut sukayasa menggantungkan harapannya. Rupanya selain kerajinan batok kelapa yang dibuat ketut ternyata dari sekian banyak batok kelapa yang didatangkan dari pemasok terdapat pula yang rusak alias bentuknya tidak memenuhi syarat. Untuk itu ia juga mengolah berbagai batok kelpa yang sudah tidak terpakai lagi menjadi bahan baku arang . Rupanya tidak setiap usaha berjalan mulus. terkadang banyak kendala ataupun hambatan yang ditemui, seperti misalnya kendala pemasaran, proses mendatangkan bahan baku serta usaha untuk memperbesar produksi. namun itu semua bagi sosok ketut suta buklanlah kendala yang berarti, baginya tetap kerja menjadi moto utamanya untuk tidak berpangku tangan. Aktifitas pembuatan kerajinan ini tidak terlepas dari peeran serta berbagai pihak termasuk upaya anggota keluarga yang intensif memberikan dorongan kepada ketut untuk tetap berusaha dan memanfaatkan potensi daerah disekitar tempat tinggal mereka. Ketut, sekarang boleh tersenyum, karena dari usaha pembuatan kerajinan batok kelapa ini, dirinya telah mampu menyekolahkan dua anaknya walau belum sampai ke tingkat yang paling tinggi. paling tidak dirinya bisa berbangga sudah bisa mewujudkan mimpi-mimpi dibantu sang istri Luh Nyoman Wardani yang setia menemani kemanapun dirinya pergi untuk mencari bahan baku ataupun menjual berbagai kerajinan untuk sekadar meringankan beban hidup sehari-hari. Hidup adalah perjuangan, dan umur bukanlah penghalang untuk melakukan usaha. Ketut Sukayasa, lelaki kampung yang lugu dan polos ini, akan tetap memangkas satu demi satu batok kelapa dan menabasnya, memadukannya dengan berbagai ketrampilan yang ia miliki untuk bisa menghasilkan sebuah karya yang kini sudah merambah manca negara, dan membagi manis hasilnya dengan segenap sanak keluarga di kampung . Ucap syukur kepada Sang Maha Pencipta Ida Hyang Widi Wasa Atas segala kemurahan rakhmat dan lindunganNYA.
|
|
|
|