|
|
|
|

|
Home Celah Kehidupan Merajut Harapan Berjualan Daging Babi
|
|
Merajut Harapan Berjualan Daging Babi |
|
|
|
|
Ditulis oleh I.B. Oka Winaya
|
|
Thursday, 25 September 2008 |
Menyambangi pasar tradisonal, seperti pasar Kreneng, Kita akan menemukan banyak pedagang termasuk pedagang yang menjual beraneka macam daging. sebagian dari daging yang ditawarkan merupakan ciri khas di Bali yang erat kaitannya dengan pelaksanaan upakara yadnya, yakni daging babi.Umumnya daging hewan satu ini, kerap dipergunakan untuk melengkapi upakara kecil maupun besar di Bali. Hal ini tidak lepas dari bentuk syukur umat hindu di bali, dengan menghaturkan segala bentuk kenikmatan yang telah diberkahi Sang Maha Pencipta. Yadnya yang tiada pernah lepas di bali, memberi kesempatan kepada sebagian warganya, untuk memperoleh rejeki, dari penjualan daging khususnya daging babi, yang digunakan untuk sarana isi banten upakara. Apalagi menjelang hari besar, seperti Galungan dan Kuningan. Kesibukan pemotongan hewan ternak satu ini menyibukkan masyarakat penggelutnya. Namun tidak semua kaum berumur menyerah begitu saja dengan keterbatasan fisik dan dana, yang tidak bisa mereka tolak. Berpangku tangan serta membebankan kelangsungan hidup pada generasi yang lebih muda seakan malu dilakoni. munculah sebuah nama yang demikian akrab di telinga manakala bertemu dengan orangnya langsung…ya dialah Made Sura yang akrab dipanggil Pak Indra. Lelaki paruh baya ini tetap tegar mengandalkan sisa-sisa kejayaan masa mudanya untuk menjalankan satu pekerjaan sebagai penjual daging babi sekaligus sebagai peternak, yang tergolong sangat memeras tenaga dan waktu ini. Made Sura, adalah salah satu warga Desa Adat Renon tepatnya tinggal di banjar kelodan atau berlokasi di jalan tukad balian Renon. Made Sura sudah hampir sebelas tahun menggeluti usaha sebagai seorang penjual daging babi sekaligus peternak langsung. Usaha ini sudah dijalankan semasih dirinya baru menikah dan belum tahu harus kemana kaki ini melangkah untuk memberi nafkah istri dan juga dirinya. Dengan tiga orang anak yang seluruhnya laki-laki, Made Sura merasa perlu mempersiapkan masa depan mereka sebaik mungkin. Baginya pendidikan merupakan bekal yang teramat berharga bagi mereka. Cukuplah orang tua mereka saja yang hanya bisa mengenyam pendidikan sampai SLTA. Harapan mereka agar ketiga anaknya mampu meraih masa depan lebih baik dari orangtuanya. Bila dilihat sepintas sosok Made Sura seolah-olah orangnya agak pendiam dan cenderung saklek, namun ternyata setelah berkenalan dan ngobrol seputar seluk beluk usaha peternakan babinya yang kini sudah berjumlah lebih kurang 400 ekor, ternyata orangnya enak diajak bicara dan sangat kekeluargaan. Kesan saklek jauh dari apa yang kita bayangkan, apalagi selain keramahan yang menjadi ciri khasnya, seandainya kita berbelanja di los lantai dua pasar kreneng tempatnya setiap pagi jualan daging babi, kita akan diberikan harga cukup murah. Apalagi dibandingkan dengan penjual daging di bawah yakni dipelataran parkir pasar kreneng. Rata-rata semua pembeli merasa puas dengan harga dan pelayanan Bli Made beserta istrinya Luh Nyoman Mmariani yang dinikahinya 20 tahun silam. Made Sura bersama keluarganya berucap syukur karena berkat usaha yang dirintisnya sejak sebelas tahun silam perlahan telah menampakkan hasil dan terlebih bisa berbagai kepada segenap sanak familinya yang berjumlah sembilan orang yang kini ikut membantu usaha peternakan bibit dan babi potongnya. Paling tidak mereka telah mendapat peluang kerja yang hasilnya cukup untuk menyambung hidup mereka. Selama masih ada hari raya ataupun hari baik umat hindu, selama itu pula dinamika yadnya tidak akan pernah berhenti berdenyut. Hal ini pula akan memberikan imbas bagi usaha penjualan daging babi ataupun babi guling khususnya di bali. Begitu pula usaha peternakan yang dijalankan oleh Made Sura bersama sang istri. Sebagai bukti salah satu keberhasilan Made Sura mengembangkan usaha peternakan babinya yakni kini dirinya bisa mengontrak lahan di samping kandang yang selama ini sudah memberikan hasil. Walau tidak begitun luas namun menurut Bli Made dirinya sudah merencanakan secara matang apa-apa yang tergambar di benaknya untuk menambah jumlah ternak babi. Apalagi dirinya sudah membekali diri dengan ilmu tentang cara memelihara ternak babi yang baik dan benar. Ternyata kecintaannya kepada hewan piaraan tidak hanya terbatas pada ternak babi saja yang sudah jelas-jelas mendatangkan keuntungan bagi diri, keluarga dan juga warga sekitar, namun Bli Made juga memelihara hewan langka seperti Tribulus yakni hewan sebangsa penyu atau kura-kura namun hidup di darat dan juga hewan malam yang biasa memangsa ternak ayam yakni musang. Made Sura tidak hanya trampil dalam memelihara babi dari bibit hingga besar siap dipotong, namun juga memelihara induk untuk bisa menghasilkan anak babi yang berkualitas. Hal ini juga berdasarkan pengalaman yang ia peroleh dari membaca dan tukar pikiran dengan yang tahu soal beternak babi. Layaknya setiap warga umat hindu di bali bilamana memulai suatu usaha ataupun profesi yang dijalankan senantiasa ingat kepada Sang Maha Pencipta dan segenap manifestasi Beliu. Begitu pula dengan Keluarga Made Sura dimana sang istri Luh Nyoman Mariani senantiasa ingat dan rajin menghaturkan sesajen berupa canang ke setiap sudut rumah termasuk kandang babi hingga ke sekitar tempat tinggal mereka. Made Sura, berharap kedepannya bisa menikmati hidup dan mencapai taraf hidup yang lebih baik dari sekarang.Apalagi ketiga anaknya kini telah beranjak remaja. Selain mereka membutuhkan biaya sekolah yang lebih banyak juga untuk kebutuhan hidup sehari-hari juga bertambah. Namun rasa sujud bhakti ke hadapan Tuhan Ida Sanghyang Wida Wasalah sepenuhnya mereka gantungkan. Kelak segala yang bersumber dari Beliau berikut dengan kemurahan hati Beliaulah kini dan selanjutnya Seorang Made Sura mampu terus bertahan bahkan bisa terus mengembangkan usaha jualan daging babi sampai pada suatu ketika antara kewajiban atau Swadarma, yadnya dan karunia berada dalam posisi keseimbangan dan keharmonisan.
|
|
|
|