|
Keterbelakangan mental yang dialami putri I Luh Kepeg yang diberi nama I Luh Lueng , menjadisatu beban derita bagi perempuan ini . la memiliki kekhawatiran akan kehidupan putrinya kelak , jika ia meninggalkan dunia ini . Rasa khawatir , sebenarnya telah menggelayuti benak ibu dari enam orang anak ini , sesaat setelah kelahiran putrinya ini . Kondisinya yang lemah karena sakit ketika itu , yang membuat putrinya lahir lebih awal , menjadi biang kekhawatirannya , tentang kondisi kesehatan putrinya yang tidak normal .Bayi yang lahir lebih dini , tentu memerlukan perawatan yang lebih intensif . Namun ,dengan keterbatasan pengetahuan dan danayang dimiliki , I Luh Kepeg dan mendiang suaminya Wayan Diasti , tak mampu memberikan perawatan terbaik untuk putrinya ini .Perawatan yang tak diberikan secara maksimal ,membuat I Luh Lueng akhirnya mengalami kelainan dalam perkembangan mentalnya .Dan dengan kondisi ini , perempuan yang kini berusia kurang lebih lima puluh tahun ini ,selalu tergantung dengan keluarganya ,terutama kepada sang ibu . Sang anak yang mengalami keterbelakangan mental , menjadi beban berat bagi I Luh Kepeg. Karena ia yang menjadi satu-satunya penopang ekonomi keluarga setelah kepergian suaminya ke alam baka , harus selalu mengajak anaknya ini , ke mana pun ia bekerja , mencari sesuap nasi . I Luh Kepeg , tak mau meninggalkan anaknya seorang diri di rumah .Hal ini dilakukannya , sejak putrinya ini masih kecil hingga kini . I Luh Lueng yang mengalami keterbelakangan mental , tak ubahnya bagai seorang anak balita bagi sang ibu . Perempuan renta ini mesti merawat dan memelihara sang anak bagai merawat dan memelihara seorang balita .Dengan segala keterbatasannya , kebutuhan hidup sehari-hari I Luh Lueng yang tiada mampu berkomunikasi dengan baik ini ,dipenuhi oleh ibunya . Waktu sang ibu pun ,sebagian memang tercurah untuk memenuhi kebutuhan hidup sang anak .Di gubuknya ini , dengan tubuh rentanya , I Luh Kepeg dengan setia merawat putri sulungnya yang usianya juga beranjak senja .la tiada bisa berharap , sang anak akan diasuholeh anak-anaknya yang lain , yang sudah berkeluarga . Karena menurutnya , kondisie konomi mereka pun tergolong pas-pasan .Kehidupan ekonomi anak-anak I Luh Kepeg yang lain yang tidaklah mapan , membuatnyapasrah menerima kenyataan , mesti merawat anaknya ini seorang diri . Namun , ia tetap berusaha memelihara anaknya ini , meski dalam segala keterbatasan .Hidup dalam keterbatasan , adalah hidup yang harus dijalani oleh I Luh Lueng . Tetapi , itubukan berarti hidup perempuan ini menjadi tidak bermakna . Sehari – harinya , selalu saja ada hal berguna yang dikerjakannya , seperti membantu sang ibu membuat perlengkapan sajen .Tak hanya membantu sang ibu membuat perlengkapan sajen yang bisa dikerjakan I LuhLueng . Namun , jika ia dan sang ibu mencari buah asem , ia pun bisa membantu ibunya mengeluarkan biji asem dari daging buahnya .Hidup penuh keprihatinan , dijalani I LuhKepeg bersama buah hatinya , yang mengalami keterbelakangan mental ini . Dalam hidup yang penuh keterbatasan , di usia senjanya ini , ia mesti merawat anaknya, ini . la tak bisa berharap banyak kepada anak-anaknya yang lain , yang juga hidup dalam keterbatasan ekonomi , untuk memelihara kakak sulung mereka ini . Karenanyalah , ia mengharapkan uluran tangan pihak lain , untuk membantunya meringankan beban hidupnya .Apakah harapan I Luh Kepeg dan anaknya akan terwujud ? Akankah sang anak menjalani kondisi hidup yang lebih baik ? Tentu dibutuhkan uluran tangan dan kasih daripemirsa Bali Tv , untuk mewujudkannya .Bantulah membiaskan sedikit rona cerah , pada kehidupan perempuan tua ini dan anaknya .
BANTUAN ANDA DAPAT DISALURKAN MELALUI REKENING PT.BALI RANADHA TELEVISI a,c. 037.02.02.00066-3 a,n Dompet Wirasa Bank Pembangunan Daerah Bali Cabang Kamboja Denpasar Bantuan juga dapat berupa pakaian bekas, obat-obatan dan makanan yang dapat disalurkan melalui sekretariat Bali TV bagian Program
|